Minggu, 04 Desember 2011

PATOLOGI DAN PATOGENESIS PENYAKIT


PATOLOGI

A.    RUANG LINGKUP PATOLOGI
Patologi merupakan dasar dari ilmu kedokteran dan praktek klinik. Tanpa patologi, praktek klinik hanya merupakan mitos dan cerita rakyat saja.
PATOLOGI KLINIS DAN EKSPERIMENTAL
Pengetahuan tentang penyakit-penyakit pada manusia berasal dari pengamatan penderita atau dengan menganalogikan percobaan binatang dan pembiakan sel. Sumbangan terbesar berasal dari penelitian yang mendalam pada jaringan dan cairan tubuh penderita.
·         Patologi klinis
Kedokteran klinik didasari pada pendekatan longitudinal sakitnya penderita-riwayat sakit penderita, pemeriksaan dan penemuan klinik, diagnosis dan pengobatan. Patologi klinis lebih menekankan pada analisis silang pada tingkat penyakitnya sendiri, mempelajari lebih mendalam tentang sebab dan mekanisme penyakit, dan pengaruh penyakit pada berbagai organ dan sistem tubuh manusia. Dua keadaan di atas saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan : kedokteran klinik tidak dapat dipraktekkan tanpa menguasai atau memahami patologi. Patologi menjadi tidak berarti apabila tidak memberikan keuntungan pada tingkat klinik.
·         Patologi eksperimental
Patologi eksperimental merupakan observasi atau pengamatan atau pengaruh dari berbagai manipulasi/perlakuan pada suatu sistem di tingkat laboratorium, misalnya dengan menggunakan model binatang percobaan atau kultur sel. Peningkatan teknologi kultur sel telah memberikan keuntungan, sehingga mengurangi penggunaan binatang percobaan pada kegiatan penelitian kedokteran dan patologi eksperimental. Sayangnya sangatlah sulit untuk membentuk lingkungan fisiologis kultur sel yang sesuai dengan kondisi tubuh manusia.
PEMBAGIAN PATOLOGI
Patologi merupakan subyek ilmu yang mempunyai banyak pembagian. Secara mudahnya, maka patologi dapat dibagi menjadi beberapa sub bagian besar, yaitu :
·         Histopatologi : menemukan dan mendiagnosis penyakit dari hasil pemeriksaan jaringan.
·         Sitopatologi : menemukan dan mendiagnosis penyakit dari hasil pemeriksaan sel tubuh yang didapat/diambil.
·         Hematologi : mempelajari kelainan seluler dan berbagai komponen pembekuan darah.
·         Mikrobiologi : mempelajari penyakit infeksi dan organisme yang bertanggungjawab terhadap penyakit tersebut.
·         Imunologi : mempelajari mekanisme pertahanan yang spesifik dari tubuh manusia.
·         Patologi kimiawi : mempelajari dan mendiagnosis suatu penyakit dari hasil pemeriksaan perubahan kimiawi jaringan dan cairan.
·         Genetik : mempelajari kelainan-kelainan kromosom dan gen.
·         Toksikologi : mempelajari pengaruh racun yang diketahui atau yang dicurigai.
·         Patologi forensik : aplikasi patologi untuk tujuan yang legal ( misalnya menemukan sebab kematian pada kondisi yang tertentu ).

B.     TEKNIK-TEKNIK PATOLOGI
PATOLOGI MAKROSKOPIK
Sebelum mikroskop digunakan untuk masalah medis, observasi hanya terbatas dengan menggunakan mata telanjang, dan karenanya meningkatkan pengetahuan kita pada morbid anatomy suatu penyakit. Bentuk kelainan makroskopik merupakan nomenklatur modern pada pendekatan ini untuk mempelajari penyakit dan terutama pada autopsi. Kelainan makroskopik dari berbagai penyakit sangat khas, apabila diinterpretasikan oleh spesialis patologi yang berpengalaman. Diagnosis yang tepat sering dapat diberikan pada penemuan selanjutnya dengan, misalnya, mikroskop cahaya.
MIKROSKOP CAHAYA
Kemajuan kualitas lensa optik telah membawa informasi terbaru tentang struktur jaringan dan sel yang sehat atau yang sakit. Hal ini dimungkinkan dengan mempelajarinya di bawah mikroskop cahaya.
Untuk pemeriksaan tersebut, maka jaringan yang solid harus dipotong tipis, sehingga cahaya mampu menembusnya dan mengurangi berkumpulnya sel-sel yang saling menutupi. Berdasarkan prosedur baku maka potongan jaringan yang diambil kemudian “ dimasak “ melalui beberapa tahapan, sehingga didapatkan jaringan yang “ keras “ dalam embending/blok lilin. Kadang-kadang lilin digantikan dengan plastik yang transparan. Untuk bebagai keperluan ( misalnya histokimia, pemeriksaan cepat ) pemotongan sediaan diambil dari jaringan yang telah dikeraskan secara cepat dengan cara pembekuan. Sediaan kemudian dicat khusus ( staining ) untuk membedakan berbagai komponen yang berbeda-beda dari suatu jaringan ( misalnya inti, sitoplasma, kolagen ).
HISTOKOMIAWI
Histokomiawi merupakan suatu studi yang mempelajari tentang kondisi kimiawi suatu jaringan. Setelah mendapat perlakuan khusus dengan reagen khusus, maka secara mikroskopik berbagai keadaan jaringan dapat diperlihatkan, misalnya bentuk sel secara individu.
IMUNOHISTOKIMIAWI DAN IMUNOFLUORESEN
Penggunaan antibodi ( imunoglobulin dengan antigen yang spesifik ) merupakan bagian dari kegiatan imonohistokimiawi dan imunofluoresen, untuk memperlihatkan substansi yang dikandung jaringan atau sel. Teknik ini menggunakan antibodi yang secara kimiawi akan berikatan/berkaitan dengan enzim ataupun bahan cat fluoresen. Imunofluoresen memerlukan mikroskop yang dirancang khusus, untuk pencahayaan ultraviolet. Disamping itu hasil sediaannya tidak berumur panjang ( tidak permanen ) dan cepat rusak. Karenanya perlu suatu cara yang lebih baik, sehingga imunohistokimiawi menjadi lebih populer dibandingkan dengan imunofluresen. Pada imunohistokimiawi hasil yang dilihat berupa deposit yang gelap atau suatu material yang berwarna, dan dapat diidentifikasi secara mudah dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa. Disamping itu akan hasil akan tahan lama, tidak cepat rusak. Pengembangan dan peningkatan tentang antibodi monoklonal, telah meningkatkan juga kemampuan teknik imunohistokimiawi, dalam mendeteksi bermacam-macam material.


PATOGENESIS

  1. BAKTERI
Tidak semua bakteri yang menyebabkan infeksi diperantarakan oleh lingkungan. Bakteri memang berasal dari lingkungan dan mungkin telah membentuk koloni, yang dalam waktu yang lama tidak merugikan tubuh, sebelum kemudian menyebabkan sakit pada individu yang bersangkutan. Begitu setelah lahir, pada permukaan kulit, usus, dan vagina terjadi kolonisasi bakteri yang berguna bagi bayi tersebut. Bakteri ini dikenal sebagai bakteri komensal. Apabila resistensi tubuh berkurang, bakteri komensal dapat masuk ke dalam jaringan dan akan menyebabkan penyakit. Bakteri lain penyebab penyakit dalam kondisi normal tidak ditemukan dalam tubuh manusia.
Tidak semua bakteri mampu menyebabkan penyakit. Kelompok yang mempunyai kemampuan menyebabkan sakit disebut bakteri patogen dan kemampuan menyebabkan sakit tersebut terkait dengan virulensinya.
Bakteri menyebabkan sakit melalui produksi enzim dan racunnya yang merusak jaringan penderita. Bakteri juga dapat merusak jaringan secara tidak langsung dengan cara menyebabkan reaksi pertahanan yang berlebihan yang berkemampuan merusak jaringan. Sebagai contoh, rusaknya sebagian besar jaringan pada tuberkulosis paru yang terutama disebabkan reaksi tubuh terhadap bakteri penyebab, daripada terhadap enzim atau racun yang diproduksi bakteri.
Lesi bakteri biasanya terbatas di dalam jaringan tertentu. Bila bakteri ditemukan di dalam darah, penderita tersebut menderita bakteriemia. Bila bakteri dalam pembuluh darah tersebut berkembang biak dan menyebabkan sakit, penderita tersebut menderita septikemia. Keadaan ini sangat berbahaya dan mempunyai kemungkinan besar berakhir dengan kematian.
Bakteri terdiri atas bermacam-macam jenis, yang dibagi-bagi sesuai dengan karakteristik/sifatnya yang menyebabkan terjadinya bermacam-macam penyakit. Klasifikasi yang tepat dari bakteri yang menyebabkan infeksi, merupakan bagian yang penting, sehingga antibiotik yang paling tepat segera digunakan, tanpa penundaan, dan karenanya epidemiologi infeksi dapat dimonitor. Klasifikasi bakteri sebagian besar didasarkan bentuk bakteri, misalnya basili ( kecil, garis ) dan kokus ( bulat lonjong ) serta sifat pengecatan misalnya Gram negatif dan Gram positif. Jadi akan dapat ditemukan basil dan koken gram negatif serta basil dan koken gram positif. Disamping itu ada kategori lain yaitu, spirokhaeta dan mikrobakterium. Beberapa jenis bakteri mampu hidup dalam kondisi host dengan membentuk spora.
Walaupun bakteri ditemukan cukup banyak, tetapi pencegahan dan pengobatan infeksi-infeksi karena bakteri tersebut telah sangat berhasil dalam dunia kedokteran modern. Keberhasilan pencegahan termasuk diantaranya peningkatan secara umum kebersihan ( air minum, pembuangan limbah, dsbnya ), juga penemuan dan pengembangan vaksin-vaksin yang spesifik dan antibiotik yang banyak jenis dan kemampuannya. Kejadian yang mengikuti kegunaan yang besar pada mikrobiologi medis, imunisasi dan khemoterapi antimikrobial, ialah meningkatnya insiden infeksi rumah sakit yang merugika ( nosocomial ). Organisme penyebab infeksi ini sering resisten terhadap antibiotika spektrum luas dan sulit untuk dibersihkan.
Pengaruh yang merugikan ( patogenesitas ) dari bakteri, diperantarai oleh :
·         Pili dan adesin
·         Toksin
·         Agresin
·         Akibat yang tidak diinginkan dari sistem imun

BAKTERI PILI DAN ADENOSIN
Pili atau fimbrae adalah tonjolan kecil pada permukaan beberapa bakteri yang dilapisi molekul yang telah dikenal disebut adesin. Pili dengan lapisan adesinnya mempunyai dua fungsi, yaitu :
·         Interaksi seksual antara bakteri : pili seks
·         Perlekatan ke bagian tubuh : pili adesi
Pili adesi merupakan alat dimana bakteri melekat pada permulaan tubuh. Keadaan ini memungkinkan bakteri melekat erat dan mempengaruhi tempat tersebut. Pili merupak struktur yang ditemukan terutama pada bakteri gram negatif ( misalnya enterobakteri yang menyebabkan infeksi gastrointestinal, neiseria yang menyebabkan infeksi genital dan meningitis ). Beberapa bakteri gram positif juga mempunyai pili, terutama β-hemolitik streptokokus, yang memungkinkan untuk melekat erat pada mukosa faring.
Faktor host ikut berperan pada beberapa individu yang lebih rentan terhadap jenis infeksi tertentu, termasuk berbagai bentuk ( polimorfism ) glikoprotein pada permukaan sel, dimana pili yang diselubungi adesin melekat. Termasuk disini substansi golongan darah.

TOKSIN BAKTERI
Dikenal dua jenis toksin ( racun ), yaitu :
·         Eksotoksin
·         Endotoksin
Endotoksin. Toksin ini bertanggung jawab terhadap efek bakteri, baik lokal maupun yang jauh. Toksin dapat dinetralisir dengan antibodi yang spesifik.
Eksotoksin. Merupakan enzim yang dikeluarkan oleh bakteri yang mempunyai efek lokal maupun yang jauh. Efek toksin cenderung lebih spesifik dibandingkan endotoksin. Contoh pengaruh eksotoksin bakteri, ialah :
·         Kolitis pseudomembran karena Clostridium difficile
·         Neuropati dan kardiomiopati karena Corynebacterium diphtheriae
·         Tetanus karena tetanospasmin yang diproduksi Clostridium Tetani
·         Sindroma kulit melepuh karena Staphylococcus aureus
·         Diare karena pengaktifan cAMP oleh Vibrio cholerae
Gen yang secara langsung menyebabkan sintesis eksotoksin biasanya merupakan bagian intrinsik dari genome bakteri. Dalam beberapa keadaan, bakteri memerlukan gen dalam bentuk plasmid, merupakan bagian lengkung DNA yang dapat membawa informasi genetik dari satu bakteri ke bakteri lainnya. Ini juga merupakan mekanisme dimana bakteri dapat menjadi resisten terhadap antibiotika. Gen yang mempunyai kode untuk eksotoksin dapat juga dipindahkan oleh phages. Ini adalah virus yang mempengaruhi bakteri. Toksin yang diproduksi oleh Coryhebacterium diphteriae diberi kode pada gen, dibawa ke bakteri oleh phage. Turunan dari ini serta organisme lain yang melakukan sintesis eksotoksin dikenal sebagai toksigenik.
Kadang-kadang penyakit merupakan hasil dari penghancuran eksotoksin sebelum terbentuk. Mekanisme ini ditemukan pada kasus dengan keracunan makanan. Bentuk yang khas, tetapi sangat jarang, yaitu botulism karena kontaminasi makanan dengan neurotoksin dari Clostridium botulinium. Toksin yang bekerja pada usus seperti ini disebut sebagai enterotoksin.
Endotoksin. Merupakan lipopolisakarid dari dinding sel bakteri gram negatif ( misalnya Eschericia coli ). Toksin dilepaskan pada waktu bakteri mati. Paling poten yaitu lipid A, aktivator yang kuat dari :
·          Complement cascade-menyebabkan kerusakan pada infeksi
·         Coagulation cascade-menyebabkan kaogulasi intravaskular yang luas
·         Interleukin-1 ( IL-1 ) dilepaskan oleh leukosit dan menyebabkan demam
Bila efek ini sangat hebat, melingkupi seluruh proses infeksi, penderita tersebut mengalami syok endotoksik. Penderita menjadi demam dan hipotensi, dan mungkin disertai dengan kegagalan jantung dan ginjal. Koagulasi intravaskular yang luas akan diperlihatkan dengan kerusakan dan perdarahan yang lama pada tempat suntikan intravena, yang juga diikuti manifestasi internal yang lebih hebat. Perdarahan adrenal bilateral, terutama akibat infeksi meningokoken yang hebat ( sindrom Waterhouse-Friderichsen ) merupakan akibat yang sangat mengkhawatirkan pada keadaan syok endotosik.

AGRESIN
Agresin merupakan enzim bakterial yang mengakibatkan efek lokal, berupa perubahan kondis jaringan sehingga mempermudah tumbuh dan menyebarnya organisme. Pada keadaan ini agresin menghambat atau berlawanan dengan resistensi tubuh penderita. Sebagai contoh :
·         Koagulase dari Staphylococcus aureus : menyebabkan penggumpalan fibrinogen untuk membuat pertahanan/batas antara tempat infeksi dengan reaksi radang
·         Streptokinase dari Stretococcus pyogenes, menghancurkan fibrin sehingga memungkinkan penyebaran organisme dalam jaringan
·         Kolagenase dan hialuronidase, menghancurkan substansi jaringan ikat, sehingga memberi fasilitas untuk infiltrasi organisme ke dalam jaringan
Beberapa enzim bakteria mempunyai kegunaan yang besar pada pengobatan, termasuk restriction enzymes ( endonuklease ) yang berguna untuk mengahancurkan DNA pada tempat yang spesifik, menjadi fragmen yang lebih kecil, terutama untuk pemisahan elektroforetik. Sedangkan streptokinase digunakan untuk melunakkan dan menghancurkan trombus pada pembuluh darah penderita trombosis.

AKIBAT YANG TIDAK DIINGINKAN DARI RESPONS IMUN
Bakteri secara tidak langsung dapat merusak jaringan melalui respons imun yang merugikan penderita. Untungnya mekanisme ini jarang ditemukan, dan sebagian besar respons imun terhadap bakteri sangat membantu penderita.
Respons imun dapat merusak jaringan penderita, melalui tiga cara yaitu :
·         Ikatan kompleks imun, terjadinya ikatan antigen dari bakteri dengan antibodi penderita, yang membentuk ikatan kompleks imun dalam darah. Kompleks imun ini biasanya dapat dibuang oleh sel fagositik yang berada pada anyaman vaskuler sinusoid hati dan limpa sehingga tidak merugikan penderita. Walaupun begitu, pada keadaan tertentu kompleks imun dapat tersangkut pada dinding pembuluh darah, yang bila letaknya pada glomerulus ginjal akan menyebabkan glomerulonefritis. Bila pada kapiler daerah kulit akan menyebabkan kutaneus vaskulitis.
·         Reaksi silang imun ( immune cross-reaction ). Pada beberapa penderita mempunyai antigen pada jaringan tubuhnya yang serupa dengan antigen pada beberapa bakteri. Akibatnya antibodi dari respons pertahanan tubuh akan mengadakan reaksi silang dengan antigen yang dikandung jaringan normal.
·         Imunitas sel perantara ( cell mediated immunity ). Besarnya kerusakan jaringan yang ditemukan pada tuberkulosis tidak mencerminkan kepada organisme penyebab, tetapi kepada respons imun penderita terhadap organisme. Tanpa adanya imunitas pada penderita, Mycrobacterium tuberculosis menyebabkan terbentuknya banyak granulasi kecil dan kemudian menyebar luas, yang berakibat fatal. Dengan kehadiran respons imun penderita, apabila organisme meningkatkan serangannya, akan merangsang reaksi penghancuran jaringan dengan hebat ; di dalamnya, organisme penyebab jarang ditemukan.

BEBERAPA PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH BAKTERI
BAKTERI
KLASIFIKASI
PENYAKIT
Stafilokokus
S. aureus







S. epidemidis
Kokus gram positif

1.Melepuh, karbunkel, impetigo kulit; abses organ akibat septikemia
2.Toksin stafilokokus menyebabkan sindroma kulit terbakar, keracunan makanan, dan syndroma syok toksik
Penyakit kulit komensal pada penderita supresi imunologik
Streptokokus
S. piogenes





S. pneumoniae
S. viridans
Kokus gram positif
β-hemolitik





α-hemolitik
α-hemolitik

1.Selulitis, otitis media,    faringitis
2.Toksin streptokokus penyebab demam skarlet
3.Imun kompleks glomerulonefritis
Pneumonia, otitis media
Infeksi bakteri komensal mulut endokarditis pada kerusakan katup yang terjadi sebelumnya
Neisseria
N. gonorrhoeae

N. meningitidis
Kokus gram negatif

Infeksi veneral traktus genital
Meningitis
Korinebakteria
C. diphtheriae
Basil gram positif

Faringitis disertai toksin penyebab miokarditis dan paralisis
Klostridia
C. tetani



C. perfringens


C. difficile
Anaerob basil gram positif

Luka infeksi dengan produksi eksotoksin penyebab kekakuan otot ( tetanus )
Produksi gas dan toksin pada infeksi luka iskemik ( gas gangren )
Toksin penyebab kolitis pseudomembran
Bakteriodes
Basil anaerob gram negatif
Infeksi luka
Enterobakteri
Shigela
Salmonela
Basil gram negatif


Kolitis disertai diare
Enteritis disertai diare kadang-kadang dengan komplikasi septikaemia
Mikobakteria
M. leprae




M. tuberculosis
Basil tahan asam/alkohol

Radang kronis, sifat yang khas dan keluarannya ditentukan oleh respons imun penderita ( leprosi )
Radang kronis, sifat yang khas dengan keluarannya ditentukan oleh respons imun penderita ( tuberkulosis )


  1. VIRUS
Virus adalah partikel yang sangat kecil penyebab infeksi yang terdiri dari inti asam nukleid dan penutup protein. Secara garis besar virus dibagi menjadi virus RNA dan DNA, sesuai dengan jenis inti asam nukleid.
Virus dapat tetap di luar sel, tetapi selalu memerlukan proses biokimia sel untuk membelah diri. Dibandingkan dengan bakteri, virus lebih memperhatikan kekhususannya terhadap jaringan. Kemampuan mempengaruhi jenis sel tergantung pada ikatan virus dengan substansi yang ada pada permukaan sel. Sebagai contoh, virus penyebab hilangnya daya imunologik pada manusia ( HIV : Human Immunodeficiency Virus ) yang dikenal juga sebagai virus AIDS, secara selektif akan mempengaruhi subpopulasi T-limfosit yang memperlihatkan CD4 ( CD = Cluster Differentiation Antigen ) suatu subtansi pada permukaan sel.
Sebagian virus setelah memasuki tubuh manusia, ikut beredar dalam peredaran darah untuk kemudian sampai pada organ lain. Kejadian ini disebut sebagai viraemia. Sebagai contoh, virus polio yang masuk ke dalam tubuh melalui traktus gastrointestinal, yang akhirnya sampai ke motor neuron spinalis dengan cara viraemia kemudian menyebabkan kerusakan sel saraf dan terjadi paralisis.
Kelainan patologi karena virus dapat berupa :
·         Kerusakan jaringan secara cepat, dan langsung disertai respons radang
·         Infeksi virus yang lambat akan menyebabkan kerusakan jaringan yang kronis
·         Tranformasi sel ke bentuk tumor
Karenanya manifestasi klinik dari infeksi virus mudah berubah. Infeksi virus yang lambat, diketahui atau dikenal sebagai kelainan neurodegeneratif.

VIRUS DNA DAN RNA
Sifat virus berbeda-beda tergantung kepada kandungan asam nukleidnya. Tidak seperti sel, virus mengandung salah satu DNA atau RNA, tidak pernah keduanya.
Virus dengan inti DNA mampu hidup di dalam inti sel yang dimasuki, mengambil keuntungan dari mekanisme biokimia disana untuk mempertahankan DNA dari sel host. DNA dari beberapa virus dapat terintegrasi ke dalam DNA sel host. Keadaan ini memungkinkan infeksi virus DNA menjadi laten, diaktifkan kembali dalam kondisi tertentu, dan mungkin menghasilkan transformasi neoplastik dari sel.
Virus RNA mempunyai kecepatan pembelahan yang tinggi karena RNA polimerasenya, yang mengkopi viral genome, tidak mampu mendeteksi dan memperbaiki kesalahan transkripsi. Mutasi ini mengubah antigenitas, memungkinkan virus RNA sering mempengaruhi imunitas host. Beberapa virus RNA mengandung reverse transcriptase : enzim ini menghasilkan turunan DNA virus yang kemudian dapat integrasi dalam genome sel host.

SPESIFITAS JARINGAN
Tidak seperti bakteri, virus tidak mampu memperbanyak diri di luar sel. Karenanya, faktor kunci untuk menentukan seseorang akan terinfeksi ialah kemampuan virus untuk masuk ke dalam sel. Ada dua mekanisme yang mungkin :
·         Masuk melalui interaksi dengan reseptor seluler yang spesifik
·         Fusi secara langsung dengan membran sel
Banyak virus yang mempunyai spesifitas jaringan yang tinggi, menyebabkan infeksi pada organ-organ atau jenis sel tertentu saja. Ini dikenal sebagai tropism, dan bermacam-macam hasil dari fakta bahwa virus pertama kali harus mengikat reseptor spesifik yang ada pada beberapa jenis sel. Beberapa reseptor terdistribusi secara luas dan memungkinkan virus menginfeksi jenis-jenis sel yang luas macamnya.

PATOGENESIS KERUSAKAN SEL
Virus dapat merusak jaringan melalui berbagai mekanisme :
·         Efek sitopatik yang langsung. Sel yang berbatasan dengan virus dapat mengalami kerusakan. Efek ini dapat diperlihatkan pada kultur sel, dimana setelah dieramkan bersama virus, efek sitopatik dapat dilihat yang ditandai dengan pembengkakan sel yang diikuti dengan kematian sel. Efek ini diperantarai oleh kerusakan membran sel, yang akan menyebabkan gangguan fatal pada keseimbangan ion yang mempengaruhi konsentrasi elektrolit ekstraseluler. Sebagai contoh dari efek sitopatik yang langsung ialah virus hepatitis A.
·         Induksi imun respons. Beberapa jenis virus tidak secara langsung merusak sel, tetapi membentuk antigen baru yang terletak pada permukaan sel. Antigen baru ini dikenal sebagai benda asing oleh sistem imun penderita, sehingga sel tersebut dihancurkan. Konsekuensi fenomena ini adalah apabila respons imunnya lemah atau tidak kuat, sel yang menyebabkan antigen baru tersebut tidak menyebabkan sakit. Hal ini menguntungkan bagi penderita, karena sel yang terkontaminasi tersebut tidak dihancurkan. Sebagai akibatnya ialah penderita tanpa keluhan sakit, kelihatan sehat tetapi ia bertindak sebagai karier pembawa virus, yang berkemampuan untuk menulari orang. Sebagai contoh yaitu virus hepatitis B.
·          Penyatuan gen virus ke dalam genome host. Merupakan fenomena yang didasari pada kemampuan beberapa virus, merangsang terjadinya tumor. Gen DNA virus dapat langsung bersatu ke dalam genome host, sedangkan gen RNA virus perlu bantuan enzim dengan kerja berlawanan untuk memproduksi DNA yang dapat dimasukkan ke dalam sel. Virus RNA dengan aktivitas berlawanan disebut retrovirus.

BEBERAPA PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH VIRUS
PENYAKIT
JENIS VIRUS
GAMBARAN
AIDS ( acquired immune deficiency syndrome )
HIV ( human immunodeficiency virus ) ( RNA retrovirus )
Pengaruhi CD4 T-helper lymphocytes, menyebabkan pembesaran kelenjar limfe, supresi imun, infeksi oportunistik
Coryza ( demam )
Rhinovirus ( RNA )
Infeksi mukosa hidung
Herpes genitalis
Virus herpes simplek II DNA
Infeksi genital karena hubungan kelamin
Herpes stomatitis
Virus herpes simplek I DNA
Infeksi laten berulang pada ganglia saraf, menyebabkan vesikel sekitar mulut
Infeksi mononukleosis ( radang kelenjar )
Virus Epstein-Barr ( EB ) ( group herpes DNA )
Demam, faringitis, pembesaran kelenjar limfe menyeluruh.
Virus EB berkaitan dengan limfoma Burkiti ( malaria sebagai ko-faktor ) dan karsinoma nasofaring
Measles
Paramiksovirus ( RNA )
Demam, bercak kulit, radang traktus respiratonus. Dapat fatal bila bersama malnutrisi
Parotitis
Paramiksovirus ( RNA )
Demam, radang kel. liur, kadang-kadang pankreatitis dan orchitis
Poliomielitis
Enterovirus ( RNA )
Permulaan infeksi usus, kemudian viraemia yang mengenai sel komu anterior menyebabkan paralisis
Rabies
Rhabdovirus ( RNA )
Ensefalomielitis akut




  1. RAGI DAN JAMUR
Ragi dan jamur terdiri dari berbagai campuran mikroorganisme penyebab penyakit. Penyakit yang disebabkan ragi dan jamur disebut sebagai mikosis.
Infeksi jamur lebih sedikit dibandingkan infeksi karena bakteri atau virus. Walaupun begitu, diasumsikan merupakan hal yang penting pada penderita dengan kegagalan imunitas. Pada keadaan tersebut, jamur ( yang biasanya tidak menyebabkan sakit ) akan mengambil keuntungan karena mempunyai kemungkinan menyerang penderita yang mempunyai pertahanan tubuhnya kurang. Keadaan seperti ini dikenal sebagai infeksi oportunistik, yang bekerja sama dengan bakteri dan virus lainnya.
Reaksi jaringan yang biasa ditemukan terhadap ragi dan jamur ialah proses radang, yang kadang-kadang mempunyai tanda spesifik dengan hadirnya granuloma dan juga eosinofil.

MIKOTOKSIN
Mikotoksin merupakan toksin yang diproduksi oleh jamur. Mikotoksin yang mempunyai relevansi medis penting ialah aflatoksin yang diproduksi oleh Aspergilus flavus. Makanan yang disimpan pada kondisi hangat yang basah dapat terinfeksi oleh jamur ini, sehingga mengkontaminasi makanan dengan aflatoksin. Binatang yang makan dengan dosis yang sangat banyak akan menderita kerusakan hati yang akut. Pada manusia masalah yang besar adalah meningkatnya resiko karsinoma hepatoselulare akibat makan dalam jumlah yang relatif kecil.


BEBERAPA PENYAKIT KARENA JAMUR DAN RAGI
ORGANISME
KLASIFIKASI
PENYAKIT
Spesies Aspergillus
Jamur
Jamur yang umum disekitar, asma alergika, infeksi ruang paru ( mycetoma ), pneumonia pada host dengan supresi imun
Candida albicans
Ragi
Kuman komensal oral dan vagina menyebabkan kelainan lokal atau sistemik ( septikaemia ) pada host dengan supresi imun, diabetes, dan bila lokal flora bakteri berubah karena antibiotika








  1. PARASIT
Perbedaan parasit denganagen penyebab infeksi yang lain iakah parasit mempunyai organisme yang hidup yang mempunyai nukleus uniseluler atau multiseluler yang mempertahankan hidupnya dari host. Merupakan hal yang biasa, apabila parasit berada di dalam tubuh tanpa menimbulkan suatu penyakit.
Parasit merupakan agen penyakit yang mempunyai bermacam-macam jenis yang sangat berbeda. Disebabkan siklus hidupnya perlu kondisi lingkungan tertentu, yang pada beberapa hal, diperlukan host lain maka infeksi parasit secara umum lebih sering ditemukan di daerah tropik.
Parasit dibagi lagi menjadi beberapa jenis :
·         Protozoa. Organisme uniseluler
·         Helminth. Cacing ( cacing gelang, cacing pita )
Parasit, terutama helminth, mempunyai siklus hidup yang kompleks dan menakjubkan dan untuk siklus hidupnya memerlukan lebih dari satu host. Selanjutnya di dalam satu host, mungkin juga mengenai lebih dari satu organ. Manusia dapat sebagai host pilihan utama ( definitive hosts ) atau sebagai host perantara ( inadvertment intermediate hosts ).
Reaksi jaringan terhadap parasit sangat bermacam-macam. Bila reaksi radang terjadi, secara khas akan terlihat hadirnya eosinofil dan terjadinya granuloma. Dua jenis parasit yang berkaitan dengan terjadinya tumor ialah Skistosoma hematobium dengan kanker vesika urinaria dan Klonorkis sinensis dengan kanker vesika felea.

Facebook Comment